Senin, 31 Mei 2010

Kepun

Sepulang sekolah Oji ngebut naik motor. Dia ingat, hari ini emaknya masak sotong. Di jalan dia ditabrak truk gandeng.

Jamu Tolak Miskin

Oji minum jamu "Tolak Miskin". Lima menit kemudian rumahnya kena rudal nyasar.

Sabtu, 17 April 2010

Mata Yang Indah

Oji menatap mata gadis itu. Mata yang indah! Tiba-tiba kedua tangan gadis itu mengeluarkan kedua bola matanya, lalu diserahkan pada Oji.

Burut Sigung

Pagi Oca memberi mangga untuk Oji, tapi belum juga Oji makan, Oca memintanya kembali. Siangnya di sikut Oca ada bisul berisi mangga.

Mereka Belum Selesai Berdialog

Enam kepala manusia yang berserakan, perlahan menggelinding, mengumpul, dan saling bicara. Mereka belum selesai berdialog.

Flu Babi

Ada sesuatu di satu rongga hidung. Ia harus mengeluarkannya seperti membuang ingus. Plok! Tubuh seekor babi bunting menimpa lantai.

TENTANG FIKSI MINI

Mengunyah Fiksimini Sepanjang Hari
KOMPAS, Minggu, 11 April 2010 | 04:20 WIB

ilham khoiri Dan Putu Fajar Arcana
#RT @salmanaristo: Kirno bikin 2 surat. Buat kekasih & istrinya. Satu kangen, satunya putus hubungan. Surat tertukar amplop saat dikirimkan.

Cerita mungil itu tampil dalam hastag #fiksimini di Twitter, jejaring sosial dunia maya, Jumat (9/4) siang. Kisah yang ditulis Salman Aristo itu hanya terdiri dari 18 kata, tetapi punya daya ledak yang mengusik. Membaca cerita ini, kita tersulut untuk membayangkan banyak hal.

Kira-kira kalau diuraikan ceritanya begini: Ada tokoh bernama Kirno. Dia membuat dua surat untuk kekasih dan istrinya. Satu surat berisi curahan hati rasa kangen dan satu surat lagi berisi penjelasan putus hubungan. Kita langsung bisa menebak, tokoh itu jenis lelaki yang suka berselingkuh.
Ternyata, surat itu tertukar amplop saat dikirimkan. Cerita dibiarkan menggantung sampai di situ saja. Selanjutnya, kita dibiarkan menjelajah berbagai kemungkinan. Bagaimana saat dua perempuan itu menerima surat yang salah; bagaimana pula hubungan mereka selanjutnya dengan Kirno?

Ada banyak persepsi yang muncul dari dua peristiwa yang dibenturkan secara ironis tadi. Bagi Kirno, ini adalah tragedi. Bagi sebagian pembaca, cerita itu jadi lelucon.
”Cerita ini mudah nyambung dengan banyak orang karena tema selingkuh sekarang sudah jadi komoditas di banyak film, lagu, drama, atau sinetron,” kata Salman Aristo, yang sehari-hari bekerja sebagai penulis skenario film dan produser.

Cerita-cerita dengan format serupa Kirno tadi sekarang bermunculan dalam hastag #fiksimini di Twitter. Fiksimini adalah ruang berbagi cerita yang terbuka bagi semua orang yang mengikutinya—biasa disebut sebagai followers. Sesuai dengan namanya, cerita yang ditampung di ruang itu adalah fiksi yang mini alias cerita yang pendek sekali.

Setiap satu cerita tak boleh lebih dari 140 karakter, termasuk spasi dan nama pengirim. Tapi, dalam kependekannya itu, kita bisa menemukan unsur-unsur cerita, seperti tokoh, karakter, plot, ketegangan, dan konflik. Setiap pengirim (yang ditandai dengan @nama) dituntut memainkan semua unsur drama secara efektif sehingga bisa menggugah, bahkan meletupkan ledakan yang mengesankan.

Diminati
Account @fiksimini di Twitter dibuka hampir dua bulan terakhir. Forum berbagi cerita singkat di dunia maya itu digagas Agus Noor, sastrawan dari Yogyakarta, bersama Eka Kurniawan dan Clara Ng. Mereka bertiga kini menjadi moderator yang mengatur lalu lintas cerita dari para pengirim.
Istilah fiksimini dicetuskan Agus Noor untuk menamai cerita singkat yang berusaha menceritakan sebanyak mungkin kisah dengan semini mungkin kata. ”Setiap pengirim cerita harus menemukan konsep dramatik dalam keterbatasan itu. Ini tantangan yang menarik,” kata Agus.

Setiap hari, moderator menyodorkan tema tertentu, seperti surat, ranjang, soto, ciuman, atau soal lain. Pengikut lantas menanggapi dengan membuat cerita mungil dengan tema tadi. Ternyata, responsnya mengejutkan.

Menjelang dua bulan ini, pengikut @fiksimini mencapai sekitar 4.500 orang. Tak hanya kalangan sastrawan, peminatnya meluas di masyarakat, seperti wartawan, sutradara, mahasiswa; dari remaja sampai berusia tua.

Pengelola fiksimini kemudian membuat blog tersendiri, http://fiksimini.com, untuk mem-backup data yang masuk. Hingga kini, jumlah fiksimini yang terekam mencapai 2.000 cerita lebih. Ribuan cerita itu bakal dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk buku.

Setiap kali moderator melempar satu tema, cerita yang muncul beragam, menarik, dan menjanjikan kejutan. Dalam keterbatasan ruang, setiap pengarang berusaha membentangkan kisah-kisah panjang dan mendalam, dan biasanya dengan ending penuh teka-teki.

Coba saja kita lihat beberapa cerita yang dikirimkan untuk merespons tema surat, Jumat lalu. Meskipun sama-sama berangkat dari surat, beberapa penulis menghadirkan kisah berbeda.

#RT @dedirahyudi: Dia kirim mimpi buruknya di pagi hari. Malamnya mimpi itu kembali lagi. Prangkonya kurang!

#RT @yanuunay: Ia tulis cerita seru kpd sepupunya soal sungai tempat ia biasa berenang. Ceritanya blm terkirim, sorenya ia tenggelam.

Mengasyikkan
Kenapa fiksimini diminati begitu banyak kalangan? Sebagian orang mengaku, ruang itu telah membuka kemungkinan ekspresi seni sastra alternatif yang mengasyikkan. Siapa pun yang bergabung akan digoda untuk berimajinasi dan menuliskan kelebat gagasan atau cerita dalam kalimat yang padat, tetapi tetap menggugah.

Simak saja pengakuan Hasan Aspahani, penyair yang tinggal di Batam, Kepulauan Riau, ”Saya dirangsang untuk menemukan gagasan cerita, mengolahnya dalam kalimat pendek-padat dengan memperhitungkan semua unsur bahasa, seperti metafor, rima, gaya, titik, koma, dan lain-lain. Ini bisa jadi selingan yang menyenangkan.”

Baru dua minggu ini aktif mengikuti fiksimini, Hasan sudah benar-benar keranjingan. Dalam sehari, dia bisa mengirimkan 20-an cerita mungil. Dia berencana mengembangkan sebagian fiksimininya menjadi puisi panjang.

Fiksimini di Twitter memang menyusupkan kesegaran di tengah dunia sastra Indonesia yang nyaris kehilangan gagasan. Agaknya ini adalah lanjutan dari diaspora sastra di negeri ini yang mencair beberapa tahun belakangan. Setelah internet semakin mudah diakses dan bermunculan jejaring sosial di dunia maya, banyak orang kemudian mengekspresikan tulisannya, seperti di Blogspot, Multiply, Wordpress, Friendster, Facebook, termasuk kemudian Twitter.

Menurut Agus, jauh sebelum ini, sebenarnya tradisi menulis cerita mungil sudah digarap beberapa sastrawan Indonesia. Penyair Sapardi Joko Damono pernah membuat karya serupa dalam Perahu Kertas atau Mata Pisau. Joko Pinurbo juga menulis ceria mungil, seperti Celana atau Tukang Cukur.

Agus sendiri juga menyajikan cerita serupa dalam kumpulan cerpen terbarunya berjudul Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia. Dalam cerita ”Perihal Orang Miskin yang Bahagia”, Agus membagi cerita kecilnya menjadi 27 bagian, yang merupakan fragmen-fragmen tentang orang miskin.

Hanya saja, kemunculan fiksimini di Twitter memang menjadi berbeda karena menggunakan media yang lebih mudah diakses, lebih cepat, dan mengundang interaksi langsung dari setiap pengguna internet. Lewat komputer atau telepon seluler, orang bisa menyimak atau mengirimkan cerita di sela-sela kesibukannya.

Lebih dari itu, fiksimini di Twitter menunjukkan, sastra juga bisa sangat adaptif dengan media terkini. Media ini berpotensi membuat dunia sastra semakin demokratis. Sastra menjadi tetap relevan dengan kehidupan nyata dan dengan perubahan zaman sekarang.

AGUS NOOR, "FIKSI MINI: MENYULING CERITA, MENYULING DUNIA."
Diterbitkan November 21, 2009 Esai , Fiksi Mungil 13 Komentar - komentar
Tag:Fiksi Mini, Micro Fiction


For sale: baby shoes, never worn.
Ernest Hemingway

Saya menyebutnya fiksi mini. Itulah bentuk fiksi mini yang saya himpun dalam antara lain dalam “Anjing & Fiksi Mini Lainnya” atau “35 Cerita untuk Seorang Wanita” (Jawa Pos, 1 November 2009). Yakni fiksi, yang hanya terdiri dari secuil kalimat. Mungkin empat sampai sepuluh kata, atau satu paragrap. Tapi di sana kita beroleh “keluasan dan kedalaman kisah”. Kutipan di awal tulisan, merupakan karya penulis dunia, Hemingway, adalah salah satu contoh “novel terbaik dunia”, yang ditulis hanya dengan beberapa patah kata. Karya itu, ditulis di tahun 1920, karna Hemingway bertaruh dengan rekannya: bahwa ia mampu nenulis novel lengkap dan hebat hanya dengan enam kata. Dan penulis Amerika itu menyatakan: itulah karya terbaiknya.

Tapi, bila kita mau melihat bentuk-bentuk karya sastra yang sudah ada, fiksi mini sesungguhnya punya jejak sejarah yang panjang. Artinya, tidak dimulai di tahun 1920, ketika Hemingway menulsikan fiksi mininya itu. Kita ingat fabel-fabel pendek yang ditulis Aesop (620-560 SM), adalah sebuah “kisah mini” yang penuh suspens dalam kependekannya. Kita bisa melihat pula kisah-kisah sufi dari Timur tengah, yang turunannya populer sampai sekarang dalam bentuk anekdot-anekdot semacam Narsuddin Hoja atau Abunawas. Kisan-kisan kebajikan zen di Tiongkok, yang bahkan seringkali lebih menggungah ketimbang cerita panjang yang bertele-tele.

Di perancis, fiksi mini dikenal dengan nama nouvelles. Orang Jepang menyebut kisah-kisah mungil itu dengan nama “cerita setelapak tangan”, karena cerita itu akan cukup bila dituliskan di telepak tangan kita. Ada juga yang mneyebutnya sebagai “cerita kartu pos” (postcard fiction), karena cerita itu juga cukup bila ditulis dalam kartu pos. Di Amerika, ia juga sering disebut fiksi kilat (flash fiction), dan ada yang menyebutnya sebagai sudden fiction atau micro fiction. Bahkan, seperti diperkenalkan Sean Borgstrom, kita bise menyebutnya sebagai nanofiction. Apa pun kita menyebutnya, saya pribadi lebih suka menamainya sebagai fiksi mini.

Ada yang mencoba memberi batasan fiksi mini itu melalui jumlah katanya. Misalkan, sebuah karya bisa disebut fiksi mini bila ia terbentuk dari tak lebih 50 kata. Ada yang lebih longgar lagi, sampai sekitar 100 kata. Dalam batasan seperti ini, maka kita akan menemukan bahwa banyak penulis dunia seperti Kawabata, Kafka, Chekov, O Henry, sampai Ray Bradbury, Italio Calvino dan yang paling mutakhir Julio Cortazar, menghasilkan fiksi mini yang dahsyat. Kedahsyatan itu terasa, betapa dalam kisah yang ditulis dengan “beberapa kalimat saja”, kita dibawa pada petualangan imajinatif yang luar biasa. Dan inilah, memang, yang membuat fiksi mini, terasa punya hulu ledak. Ia seperti bom kecil, yang ditanamkan ke kepala kita, dan ledakannya membuat otak kita berguncang. Ada gema panjang, yang bahkan terus menggoda dan tak mudah hilang, setelah kita membacanya dalam sekejap.

Sembari mengutip Cortazar, Hasif Amini pernah menyebut, bila novel adalah pertandingan tinju dua belas ronde, maka cerpen ibarat pertandingan tinju yang berakhir dengan KO atau TKO – mungkin di rondo ke empat atau ronde ke enam.. Maka, fiksi mini ibarat pukulan telak yang langsung membuat lawan terjengkang pada kesempatan pertama. Atau, bayangkanlah sebuah ruang tunggu, begitu Amini melukiskan.

Novel ibarat kita tengah berbincang-bincang secara panjang dengan seseorang yang kita jumpai di ruang tunggu. Kita jadi merasa mengenal atau mengetahui keseluruhan kisah hidup orang itu. Cerpen menjadi seperti perbincangan singkat dengan seseorang di ruang tunggu, dan kita merasa “hanya” mengetahui satu bagian dari kisah hidup orang itu. Maka, fiksi mini, adalah seseorang yang tiba-tiba saja datang, lalu berkata sepatah dua patah kata, atau sekalimat, yang membuat kita terperangah. Dan orang itu, mendadak sudah menghilang begitu saja. Meninggalkan kita yang hanya terbelalak, digoda sejuta tanya, dan terus-menerus memikirkan apa yang tadi barusan dikatakan orang itu? Begitu efek fiksi mini. Ia seperti satu tamparan yang membuat kita kaget terbelalak.

Bila, saya disuruh menegaskan melalui jumlah kata, maka saya akan membatasi pada jumlah 50 kata itu, untuk sebuah karya bisa disebut fiksi mini. Tapi rumusannya adalah, ‘menceritakan sebuah kisah dengan seminim mungkin kata’. Maka, semakin sedikit jumlah kata itu, maka semakin berhasil fiksi mini itu. Tapi, tentu saja, bukan cuma jumlah kata itu yang membuat fiksi mini kuat. Dalam jumlah kata yang secuil itu, tetap harus membayangkan sebuah kisah panjang, atsmosfir kisah yang luas, bayangan karakter, ada konnflik dan suspens, atau mungkin teka-teki yang tak kunjung selesai. Semakin sedikit kata, tetapi semakin luas membentang kisah di dalamnya, dalam koridor itulah seorang pengarang ditantang untuk menghasilkan fiksi mini yang kuat.

Saya menyebutnya fiksi mini (bukan prosa mini), karena fiksi mini memang bisa juga berbentuk puisi. Tetapi, tentu saja, bila menyangku urusan kategorisasi, fiksi mini tetap harus memiliki elemen narataif atau penceritaan, untuk membedakannnya dengan “puisi pendek’ (misalnya). Karena kita tahu, ada bentuk-bentuk puisi yang sangat pendek, seperti haiku, tetapi barangkali tetap lebih nyaman bila disebut sebagai puisi pendek, bukan fiksi mini. Maka, dalam fiksi mini itu, elemen dasar penceritaan atau naratif (yang karenanya menjadi lebih dekat pada prosa) bisa ditemukan. Kita mengenal element penceritaan seperti penokohan (protagonis dan antagonis), konflik, obstacles atau juga complication dan resolution. Barangkali, pada fiksi mini, justru resolution itu yang dihindari, karena dalam fiksi mini, akhir (ending) menjadi semcam gema, yang terus dibiarkan tumbuh dalam imajinasi pembaca. Karakter menjadi kelebatan tokoh yang seperti kita kenal, tetapi tak mudahdipastikan, dan karenanya bergerak cepat. Itulah yang justru membuat kita penasaran.

Saya akan kutipkan satu contoh. Berikut ini adalah karya Joko Pinurbo, yang “resminya” oleh penulisnya sendiri, disebut puisi. Tapi, menurut saya, ia bisa disebut fiksi mini:

Penjahat Berdasi
Ia mati dicekik dasinya sendiri.

Dalam karya itu, kita menemukan bayangan tokoh, yakni “si penjahat berdasi”. Di sana suatu konflik yang membuat si tokoh itu akhirnya mati secara mengerikan: dicekik oleh dasinya sendiri. Perhatikan kata “dicekik” dan buka “tercekik”, misalnya. Dalam kata “dicekik” itulah, kita menemukan unsur plot arau alur: bagaimana suatu hari dasi itu berubah seperti tangan hitam dan kasar yan jengkel dan kemudian mencekik leher di tokoh itu”. Memilih kata yang tepat, efektif dan kuat secara imajinatif, menjadi kunci lain bagi proses penulisan fiksi mini.

Saya sengaja mengutip “fiksi mini” Joko Pinurbo itu, sekadar untuk memperlihatkan, betapa sesungguhnya, selama ini, fiksi mini, banyak digarap oleh penulis kita. Puisi-puisi yang menghadirkan dirinya menjadi semacam prosa, sebagaimana yang kerap ditulis oleh Joko Pinurbo (seperti Celana atau Tukang Cukur) atau juga oleh Sapardi Joko Damono (Perahu Kertas atau Mata Pisau). Dalam pengantar kumpulan prosanya Pengarang Telah Mati, Sapardi menegaskan kalau prosa-prosa pendek itu disebutnya “cerpen mini” karena ia memang menyebutnya prosa. Padahal, menurut saya, prosa-prosa pendek – atau fiksi mini dalam istilah saya – telah banyak ditulis Sapardi, seperti dalam sajak “Tuan”, meski ia menyebutnya puisi. Mari kita kutip sajak “Tuan” itu, dan saya tulis ulang dengan gaya prosa:

Tuan
“Tuan Tuhan, bukan?” Tunggu sebentar, saya sedang keluar.

Tidak bisa tidak, itu adalah bentuk fiksi mini, meski penulisnya sendiri menyebutnya sebagai puisi. Barangkali, karena saat puisi itu ditulis, istilah fiksi mini belum terlalu ngetrend. Saat ini, ketika dunia semakin berkelebat, ketika waktu kian bisa dilipat-lipat begitu kecil dan praktis, ketika dunia seperti telepon genggam yang kita simpan dalam saku celana, segala yang sekilas seperti telah menjadi nafas kita sehari-hari, dan kita menjadi merasa penting segala macam hal yang mesti serba sekilas, selintas, gegas dan ringkas. Ketika intenet mulai mendominasi, maka fiksi mini menjadi trend yang menggoda dan digandrungi. Kecepatan dan keringkasan adalah ciri tulisan di internet. Barangkali, karena itulah, fiksi mini seperti menemukan habitatnya yang pas di laman internet. Kurnia Effendi, seorang penulis cerpen Indonesia, saat saya membacakan dan mendiskusikan fiksi mini di Warung Apresiasi Sastra Bulungan Jakarta, melihat problem terbesar fiksi mini ketika ia bersinggungan dengan media utama publikasi sastra kita, yakni koran. Fiksi mini menjadi mustahil muncul di koran, kata Effendi, karena “ruang koran menjadi teralu luas untuk bentuk fiksi mini. Maka saya mencoba mensiasatinya dengan cara “menghimpun sekian fiksi mini”, seperti dalam “35 Cerita buat Seorang Wanita” itu atau dalam “20 Keping Puzzle Cerita”. Pada dasarnya, itu adalah fiksi mini, yang tiap bagian kisahnya berdiri sendiri. Menghimpunnya hanyalah menjadi semacam strategi publikasi.

Ketika dunia makin pendek, pengarang pun ditantang untuk menyuling cerita. Menyuling cerita, begitulah pada dasarnya proses penulisan fiksi mini. Atau pengarang seperti ahli kimia yang mencoba menemukan atom cerita. Ia membuang dan mengurai detail yang kadaluarsa, yang hanya akan mengganggu dan mengotori kemurnian imajinasi. Ketika dunia sudah menjadi terlalu prosais, terlalu banyak kehebohan cerita yang sesungguhnya hanya gegap-gempita yang menyesatkan, yang terus menerus direproduksi hingga tak lebih menjadi kisah-kisah yang yang mekanis dan gampang kita duga, maka fiksi mini seperti sebuah jalan spiritual untuk menemukan semua esensi cerita. Menyuling cerita, menjadi pencarian spiritualitas cerita, sebagaimana tersirat dalam fiksi mini-fiksi mini seputar zen budisme. Barangkali, itulah “teologi fiksi mini”, yang membuatnya menjadi penting dan relevan untuk kita yang megam-megam dalam samudera cerita, dan kita justru terasing dari semua cerita yang direproduksinya.

Saya ingin menutup esai ini dengan satu fiksi mini saya,
Sebutir Debu
Tepat, ketika sebutir debu itu jatuh menyentuh tanah, semesta ini pun meledak.

Jagat raya ini hanyanya sebutir debu. Begitulah jagat raya di mata Tuhan. Maka inilah akar teologis dari fiksi mini, bahwa Tuhan menyusun jagat raya ini sebagai pengarang yang telah menemukan esensi cerita. Jagat raya ini adalah fiksi mini yang telah berhasil ditulis oleh Tuhan dengab piawai.

Sekarang, pejamkanlah mata. Biarkan segala hirup pikuk cerita lenyap dari kepalamu, hingga yang tersisa adalah bentangan kesunyian imajinasi yang paling ultim, sublim. Itulah esensi cerita yang kini muncul dalam kemurnian imajinasimu. Tidakkah kau ingin terus-menerus menyuling dan menuliskannya?